Industri

Suno Beri Dana Hibah ke Musisi Indie dengan Syarat Tak Kritik Perusahaan

Oleh KabarMusik 6 menit baca
Suno Beri Dana Hibah ke Musisi Indie dengan Syarat Tak Kritik Perusahaan

Suno, perusahaan AI musik generatif yang tengah menghadapi gugatan hak cipta dari label besar dan artis independen, baru saja meluncurkan program inkubator bernama Spark. Program ini menawarkan dana hibah, bimbingan, dan dukungan pemasaran bagi musisi yang tidak terikat kontrak dengan label. Tapi, ada harga yang harus dibayar: peserta harus setuju untuk tidak mengkritik Suno.

Apa Itu Program Spark?

Diperkenalkan pada Kamis (25 Juni) melalui blog bersama yang ditulis oleh Chief Music Officer Suno Paul Sinclair dan Head of Creative Economy and Monetization Rosie Nguyen, Spark disebut sebagai jawaban Suno atas kesulitan yang dihadapi artis independen.

“Making it as an independent artist isn’t easy. Every day, we meet talented artists with great ideas, unique perspectives, and a clear vision for their music, but who may not have the resources or connections to take the next step.”

— Paul Sinclair dan Rosie Nguyen, Suno

Artinya: Menjadi artis independen tidaklah mudah. Setiap hari kami bertemu seniman berbakat dengan ide bagus, perspektif unik, dan visi musik yang jelas, namun mungkin tidak memiliki sumber daya atau koneksi untuk melangkah lebih jauh.

Setiap artis yang terpilih akan menerima dana hibah yang menurut sumber berkisar antara ribuan hingga puluhan ribu dolar AS. Selain itu, mereka juga mendapat dana pemasaran tambahan, undangan untuk berkolaborasi dengan artis mapan di writing camps Suno, dan kesempatan memberi masukan terhadap fitur yang sedang dikembangkan perusahaan.

Halaman arahan Spark menambahkan detail lain: peserta juga mendapatkan dedicated partner manager dari Suno, akses gratis ke Suno Premier dan kredit lagu, akses awal ke alat-alat baru, penempatan editorial di platform, serta peluang bekerja dengan sutradara video musik terkenal.

Sebagai imbalannya, artis peserta wajib mempromosikan lagu mereka di berbagai media sosial (Instagram, TikTok, YouTube, dll.) dengan menyorot bahwa lagu tersebut dibuat menggunakan Suno. Mereka juga “didorong untuk merilis ke DSP dan platform lain”.

Klausul ‘Good Vibes Only’ di Balik Layar

Meski blog utama Spark terdengar positif, syarat dan ketentuan terpisah yang disebut fine print justru memuat sejumlah klausul kontroversial.

Salah satunya adalah klausul anti-pencemaran nama baik (anti-disparagement). Dalam bagian berjudul “Good Vibes Only”, peserta setuju bahwa selama masa kontrak dan setelahnya, mereka tidak akan membuat pernyataan atau representasi, langsung atau tidak langsung, secara lisan atau tulisan, yang menggambarkan Suno, staf Suno, atau produk/layanan Suno dalam sudut pandang negatif.

Pelanggaran terhadap klausul ini “akan dianggap sebagai pelanggaran material dan menjadi alasan pemutusan kontrak,” demikian bunyi ketentuan Spark.

Selain itu, klausul tentang nama, gambar, dan kemiripan (name, image, and likeness) memberi izin kepada Suno untuk menggunakan konten peserta serta nama dan gambarnya untuk keperluan pemasaran dan promosi selama masa kontrak dan seterusnya. Lisensi ini mencakup “saluran milik Suno, pers, dan media digital lainnya, termasuk dalam karya turunan.”

Penting juga: peserta harus menerima syarat dan ketentuan standar Suno. Di dalam ToS tersebut, tercantum klausul yang menghilangkan hak untuk mengajukan gugatan kelas (class action). Menurut ToS, dengan menyetujuinya, “Anda dan Suno masing-masing melepaskan hak untuk diadili oleh juri atau berpartisipasi dalam gugatan kelas,” dan sengketa akan diputuskan oleh “arbiter netral, bukan hakim atau juri.”

Klausul ini menjadi krusial karena Suno saat ini tengah menghadapi gugatan kelas yang diajukan oleh artis independen pada Juni 2025. Pekan lalu, firma hukum gugatan kelas Hagens Berman bergabung dalam kasus tersebut. Gugatan itu menuduh bahwa rekaman ber-hak cipta milik artis digunakan tanpa izin untuk melatih model AI Suno — model yang sama yang menjadi dasar platform Spark.

Konteks Hukum yang Panas

Selain gugatan kelas, Suno juga masih digugat oleh dua dari tiga perusahaan label besar. Warner Music Group telah menyelesaikan gugatannya dan menjalin kemitraan dengan Suno pada November 2025, namun Universal Music Group dan Sony Music Entertainment masih dalam litigasi aktif.

Gugatan pertama label besar melalui RIAA diajukan pada Juni 2024, menuduh Suno dan pesaingnya Udio melakukan penyalinan massal rekaman suara untuk melatih model generasi musik AI. Kasus ini belum selesai.

Sementara itu, kritik dari artis papan atas juga terus mengalir. Pekan lalu, SZA mengutuk penggunaan musiknya untuk melatih AI dalam serangkaian unggahan media sosial. Doja Cat secara terbuka menyangkal musik AI setelah ia mengatakan penggemar salah mengira lagu buatan AI sebagai karyanya.

Dana Besar di Balik Spark

Peluncuran Spark terjadi setelah Suno berhasil mengumpulkan dana dalam jumlah besar. Awal Juni 2026, perusahaan menutup pendanaan Seri D senilai $400 juta dengan valuasi $5,4 miliar — lebih dari dua kali lipat valuasi $2,45 miliar pada Seri C November 2025.

Aspek Program SparkDetail
Hibah kreatifRibuan hingga puluhan ribu dolar AS
Dukungan pemasaranDana tambahan, partner manager, editorial placements
AksesSuno Premier, kredit lagu, fitur beta, writing camp
KewajibanPromosi di media sosial, sebut buatan Suno
Klausul khususAnti-kritik, lisensi nama/gambar, penghapusan hak gugat kelas

Perbandingan dengan Program Serupa dari Perusahaan AI Lain

Program serupa juga diluncurkan oleh pesaing Suno, seperti Udio yang menawarkan dana hibah tanpa klausul anti-kritik. Namun, Udio belum memiliki basis pengguna sebesar Suno. Perbedaan ini menunjukkan bahwa Suno lebih memilih mengontrol narasi publik di tengah tekanan hukum. Sementara itu, perusahaan AI generatif seperti OpenAI dan Anthropic telah menghadapi kritik serupa terkait data pelatihan, tetapi mereka tidak mewajibkan peserta program afiliasi untuk menahan kritik. Langkah Suno bisa menjadi preseden buruk jika ditiru oleh pemain lain di industri musik AI.

Apa Artinya bagi Musisi Independen?

Di atas kertas, Spark menawarkan suntikan dana dan eksposur yang langka bagi artis indie. Namun, adanya klausul yang membatasi kebebasan berbicara dan menghilangkan hak untuk menggugat secara kolektif menimbulkan pertanyaan etis. Apakah artis independen bersedia menukar dukungan finansial dengan risiko kehilangan suara kritis mereka?

Apalagi mengingat Suno sendiri adalah perusahaan yang produknya didasarkan pada data pelatihan yang kontroversial. Dengan menerima dana Spark, artis secara tidak langsung ikut serta dalam ekosistem yang sedang disengketakan di pengadilan.

Suno memang menegaskan bahwa peserta Spark tetap memegang kendali kreatif dan hak komersial atas karya mereka, serta tidak akan diarahkan cara mendistribusikan musiknya. Namun, syarat “Good Vibes Only” secara efektif membungkam peserta jika di kemudian hari mereka ingin menyuarakan ketidaksetujuan terhadap kebijakan atau praktik Suno.

Bagi musisi independen di Indonesia, program ini mungkin tampak menarik, tapi penting untuk membaca seluruh kontrak dengan saksama – terutama klausul yang membatasi hak hukum. Dalam industri musik global yang semakin didominasi AI, pertanyaan tentang keseimbangan antara dukungan finansial dan kebebasan berekspresi akan terus menjadi perdebatan. Terlebih, tidak ada jaminan bahwa peserta yang memutuskan berbicara kritis tidak akan menghadapi risiko pemutusan kontrak secara sepihak.

Share:

Artikel Terkait

Kembali ke Beranda