Industri

MLC Tolak Argumen 'Pacuan Kuda' Pandora dalam Gugatan Royalti Mekanis

Oleh KabarMusik 4 menit baca
MLC Tolak Argumen 'Pacuan Kuda' Pandora dalam Gugatan Royalti Mekanis

The Mechanical Licensing Collective (MLC) menolak upaya Pandora memakai putusan pengadilan banding federal soal regulasi pacuan kuda sebagai senjata hukum dalam sengketa royalti mekanis. Dalam berkas yang diajukan pada Rabu (24 Juni) di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Menengah Tennessee, MLC menyebut rujukan Pandora itu “inapposite” atau tidak relevan.

MLC menilai Pandora terlambat mengajukan argumen konstitusional tersebut. Menurut MLC, Pandora sudah menjalani proses litigasi selama dua tahun, termasuk proses discovery, tanpa mengangkat isu itu sejak awal.

Kronologi Sengketa dan Argumen Pandora

Gugatan ini bermula pada Februari 2024, ketika MLC menggugat Pandora di pengadilan yang sama. MLC menuding layanan streaming tersebut membayar royalti mekanis lebih rendah dari yang seharusnya untuk tingkat gratisnya, Pandora Free.

Perkara ini masuk babak baru pada Februari 2026. Kedua pihak sama-sama mengajukan mosi putusan sumatif atau summary judgment. Lewat mosi itu, masing-masing pihak meminta Hakim Eli J. Richardson memenangkan posisi mereka tanpa perlu persidangan penuh.

Pandora kemudian mengajukan pemberitahuan otoritas tambahan pada pertengahan Juni. Mereka mengutip putusan Pengadilan Banding AS untuk Sirkuit Kelima yang keluar pada 11 Juni. Putusan itu menyatakan bahwa ketentuan penegakan dalam Horseracing Integrity and Safety Act (HISA) melanggar doktrin nondelegasi privat.

Doktrin tersebut membatasi kemampuan Kongres untuk menyerahkan kekuasaan penegakan hukum kepada entitas privat tanpa pengawasan badan federal yang memadai.

Pandora berargumen bahwa logika yang sama bisa berlaku untuk MLC. Sebab, MLC adalah badan privat yang ditunjuk pemerintah berdasarkan Music Modernization Act (MMA) 2018. MLC memiliki wewenang untuk menyelidiki pemegang lisensi dan membawa perkara ke pengadilan.

MLC membantah argumen itu. Mereka menegaskan bahwa lembaganya tetap berada di bawah pengawasan pemerintah. Dalam pengajuannya, MLC menyebut anggota dewan direksinya diangkat dan dapat diberhentikan oleh Pustakawan Kongres, serta berada di bawah pengawasan Pustakawan dan Pendaftar Hak Cipta.

Tiga Keberatan MLC Terhadap Argumen Pacuan Kuda

Dalam tanggapannya, MLC mengajukan tiga keberatan utama terhadap upaya Pandora memakai putusan Sirkuit Kelima tersebut.

KeberatanPenjelasan
Yurisdiksi berbedaPutusan Sirkuit Kelima tidak mengubah standar hukum yang berlaku di Distrik Menengah Tennessee. Wilayah itu berada di bawah Sirkuit Keenam, yang sebelumnya sudah punya pandangan berbeda dalam perkara Oklahoma v. United States.
Ada konflik antar sirkuitMLC menyebut kesimpulan Sirkuit Kelima soal HISA bertentangan langsung dengan posisi Sirkuit Keenam. Pandora sendiri mengakui bahwa Sirkuit Kelima mengambil jalan berbeda dari Sirkuit Keenam.
Struktur hukum berbedaMenurut MLC, MMA tidak memiliki batasan penegakan seperti HISA. MMA memberi MLC kewenangan luas terkait Lisensi Blanket, termasuk penegakan, dengan pengawasan federal yang juga luas.

MLC menutup argumennya dengan menyebut putusan Black tidak memberi Pandora jalan keluar dari tanggung jawab yang sudah diperdebatkan dalam dokumen putusan sumatif.

Pertanyaan Inti: Interaktif atau Noninteraktif?

Di balik perdebatan konstitusional, kasus ini tetap bertumpu pada satu pertanyaan utama: apakah Pandora Free masuk kategori “layanan interaktif” berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta AS?

Jika jawabannya ya, maka streaming di tingkat gratis tersebut dapat dikenai royalti mekanis.

MLC berargumen bahwa fitur seperti mendengarkan sesuai permintaan (on-demand), skip dan putar ulang tanpa batas, serta program yang dipersonalisasi membuat Pandora Free masuk kategori interaktif.

Seorang juru bicara MLC sebelumnya menyebut kepada Music Business Worldwide bahwa bukti dalam perkara ini mengonfirmasi Pandora Free sebagai “layanan interaktif”. MLC juga menilai Pandora membayar royalti lebih rendah kepada pemilik hak cipta di bawah Lisensi Blanket.

Pandora mengambil posisi berbeda. Mereka mengklaim tingkat gratisnya beroperasi seperti radio internet noninteraktif. Sementara itu, sesi Premium Access, yaitu akses 30 menit setelah pengguna gratis menonton iklan video, disebut dilisensikan secara terpisah.

Konteks Hukum Lebih Luas

Argumen Pandora ini muncul di tengah perdebatan hukum yang lebih luas soal wewenang organisasi pengelola royalti di AS.

Kasus lain melibatkan SiriusXM, induk perusahaan Pandora. Pada Agustus 2025, Hakim Naomi Reice Buchwald dari Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan New York menolak gugatan SoundExchange terhadap SiriusXM.

Dalam putusan itu, hakim menyatakan bahwa Bagian 114 Undang-Undang Hak Cipta AS tidak memberi SoundExchange wewenang untuk membawa sengketa royalti ke pengadilan.

Namun, dasar putusan tersebut adalah interpretasi statutori, bukan Konstitusi. Hakim Buchwald juga mencatat bahwa aturan yang mengatur MLC, yaitu Bagian 115, secara eksplisit memberi MLC wewenang untuk membawa perkara ke pengadilan federal.

SoundExchange saat ini mengajukan banding atas putusan tersebut.

Apa Selanjutnya?

Keputusan Hakim Eli J. Richardson atas mosi putusan sumatif masih menunggu. Jika MLC menang, Pandora berpotensi harus membayar royalti mekanis dan biaya keterlambatan yang diklaim belum dibayarkan.

Jika Pandora menang, putusan itu dapat membatasi ruang gerak MLC dalam menagih royalti mekanis dari layanan streaming di bawah Lisensi Blanket.

Untuk musisi dan publisher yang merilis karya ke platform global, kasus ini menunjukkan bahwa klasifikasi layanan streaming bisa ikut menentukan bagaimana royalti mekanis dihitung dan ditagihkan.

Perkara ini juga memperlihatkan betapa teknisnya sengketa royalti di era streaming. Bukan hanya soal lagu diputar berapa kali, tetapi juga bagaimana layanan dikategorikan, lisensi apa yang berlaku, dan siapa yang punya wewenang menagih royalti tersebut.

Share:

Artikel Terkait

Kembali ke Beranda