Industri

Meta Ajukan Mosi untuk Menolak Gugatan $102 Juta dari Wixen

Oleh KabarMusik 4 menit baca
Meta Ajukan Mosi untuk Menolak Gugatan $102 Juta dari Wixen

Meta Minta Pengadilan Tolak Gugatan Wixen

Meta Platforms mengajukan mosi untuk menolak seluruh lima dakwaan dalam gugatan hak cipta dan tort dari Wixen Music Publishing. Perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp ini menyebut Wixen “berusaha mengubah sengketa lisensi rutin menjadi pertarungan hukum yang luas.”

Mosi tersebut diajukan pada Senin (15 Juni) oleh pengacara Meta dari firma Mayer Brown LLP. Dokumen ini menargetkan seluruh isi First Amended Complaint dari Wixen — yang mencantumkan 681 karya musik dan menuntut lebih dari $102 juta dalam ganti rugi.

Sidang dijadwalkan pada 3 Agustus di hadapan Hakim John F. Walter di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Tengah California.

Kronologi Sengketa

Kasus ini bermula dari hubungan lisensi antara Meta dan Wixen yang dimulai sekitar Maret 2018. Kesepakatan tersebut berakhir pada 10 Desember 2025 setelah negosiasi perpanjangan gagal karena perselisihan soal tarif.

Wixen mengajukan gugatan awal pada Januari 2026 atas 331 karya dengan tuntutan sekitar $49,65 juta. Dalam amandemen yang diajukan Mei 2026, Wixen menggandakan jumlah karya menjadi 681 dan tuntutan menjadi lebih dari $102 juta — menyebut jumlah total karya yang dilanggar “jauh di atas seribu.”

Argumen Meta

Dalam dokumennya, Meta menyebut Wixen sebagai “penggugat serial” dan mengutip dua gugatan sebelumnya yang dilayangkan Wixen terhadap Pandora dan Triller — keduanya ditolak pengadilan di distrik yang sama atas dasar standing yang kini kembali diangkat.

“Alih-alih menerima konsekuensi komersial dari negosiasi yang gagal, Wixen mengajukan gugatan ini, berusaha mengubah sengketa lisensi rutin menjadi sengketa hak cipta dan tort yang luas melibatkan 681 karya dan lebih dari $102 juta.”

Meta juga menunjukkan inkonsistensi dalam klaim Wixen: di satu sisi, Wixen menuduh Meta menghapus musik terlalu cepat (sebelum lisensi berakhir), di sisi lain menuduh Meta tidak cukup cepat menghapus musik setelah terminasi.

“Teori-teori yang tidak konsisten ini mencerminkan bahwa kasus ini bukan tentang pelanggaran aktual, melainkan ketidakpuasan terhadap hasil negosiasi bisnis yang gagal,” demikian isi mosi tersebut.

Rincian Dakwaan yang Ditentang

Soal Standing (Kedudukan Hukum)

Meta berargumen bahwa klaim Wixen sebagai “pemegang lisensi eksklusif dan/atau pemilik” terlalu umum dan tidak memenuhi syarat untuk mengajukan gugatan berdasarkan Copyright Act. Pengadilan di distrik yang sama telah dua kali menolak gugatan Wixen atas dasar yang sama.

Soal Pelanggaran Langsung

Mosi menyatakan bahwa klaim pelanggaran langsung gagal untuk 652 dari 681 karya, karena amandemen hanya menggunakan dua contoh yang sama dari gugatan awal: lagu “Light My Fire” dan “Mr. Roboto.”

Soal Pelanggaran Kontributori

Meta berargumen bahwa Wixen hanya mengutip satu screenshot pasca-terminasi sebagai bukti penggunaan pihak ketiga, dan selebihnya bergantung pada spekulasi bahwa “ribuan reels” pasti ada.

Soal Defamasi dan Tortious Interference

Meta menyebut komunikasi yang dikutip Wixen — terkait sengketa kepemilikan dan prosedur wind-down lisensi — sebagai “masalah manajemen hak yang sepenuhnya rutin” dan bukan sesuatu yang bisa dianggap defamatori.

Tuduhan Wixen terhadap Meta

Di sisi lain, amandemen gugatan Wixen menuduh Meta mengatur “kampanye tekanan” selama negosiasi — menghapus musik klien dari platform saat lisensi masih aktif dan memberitahu klien bahwa Wixen yang bertanggung jawab atas penghapusan tersebut.

Wixen juga mempertahankan tuduhan bahwa motivasi Meta memotong pembayaran ke songwriter adalah untuk mengganti musik ciptaan manusia dengan alternatif AI yang bebas royalti.

“Alasan Meta memangkas pembayaran ke songwriter adalah untuk mengganti musik ciptaan manusia yang menanggung royalti dengan musik AI yang bebas royalti,” demikian pernyataan dalam gugatan.

Konteks Industri yang Lebih Luas

Sengketa ini bukan satu-satunya kasus hak cipta aktif terhadap Meta dari pemegang hak musik:

  • Epidemic Sound mengajukan gugatan hak cipta kedua terhadap Meta pada Desember 2025 atas 1.000 karya tambahan
  • Eight Mile Style (co-publisher komposisi Eminem) baru saja mendapat izin dari hakim federal untuk melanjutkan klaim pelanggaran langsung terhadap Meta

Kasus-kasus ini mencerminkan ketegangan yang semakin besar antara perusahaan teknologi dan pemegang hak cipta musik soal bagaimana lisensi musik dikelola di platform digital.

Relevansi untuk Ekosistem Musik

Bagi publisher dan pemegang hak cipta, hasil kasus ini bisa menentukan preseden penting: apakah platform teknologi bisa mengkategorikan sengketa lisensi sebagai masalah bisnis biasa yang tidak layak dibawa ke pengadilan?

Jika Meta berhasil, ini bisa mempersulit publisher kecil dan independen untuk mempertahankan hak mereka di hadapan platform besar. Sebaliknya, jika Wixen menang, ini bisa mendorong lebih banyak publisher untuk mengejar ganti rugi melalui jalur hukum.

Apakah ketegangan serupa antara platform digital dan pemegang hak cipta juga akan meningkat di ekosistem musik Indonesia?

Share:

Artikel Terkait

Kembali ke Beranda