Hakim Tolak Permintaan Sony Tambah 30.442 Rekaman ke Gugatan AI Udio
Hakim federal New York menolak permintaan Sony Music Entertainment untuk menambahkan 30.442 rekaman suara ke gugatan pelanggaran hak cipta terhadap platform AI musik Udio.
Keputusan Hakim Alvin K. Hellerstein, yang dilansir Music Business Worldwide, menjaga jumlah sengketa tetap pada 333 karya yang tersisa dalam kasus tersebut. Sony mengajukan mosi pada 22 Mei lalu setelah mengidentifikasi rekaman tambahan dari data pelatihan Udio yang diperoleh dalam proses discovery.
“Adding more than 30,000 works near the close of document discovery would require substantial additional production and review, generate further disputes, and materially alter the scope of the case before me.” — Alvin K. Hellerstein, Hakim Distrik AS
“Menambahkan lebih dari 30.000 karya menjelang penutupan dokumen discovery akan membutuhkan produksi dan peninjauan tambahan yang substansial, menimbulkan perselisihan lebih lanjut, dan secara material mengubah ruang lingkup kasus di hadapan saya,” tulis Hellerstein.
Jika gugatan diperluas, potensi kerugian yang dihadapi Udio bisa membengkak. Undang-undang hak cipta AS menetapkan batas atas ganti rugi statutori (statutory damages) sebesar $150.000 per karya untuk pelanggaran yang disengaja.
Sony Melawan Arus
Sony Music—bersama anak perusahaannya, Arista Music dan Arista Records—kini menjadi satu-satunya label besar yang masih menggugat Udio. Padahal, tren industri bergerak ke arah sebaliknya.
Gugatan awal dimulai Juni 2024 ketika RIAA menuntut Udio dan pesaingnya Suno atas nama label-label besar, menuduh platform tersebut melakukan “pelanggaran massal” hak cipta. Namun perlahan, satu per satu label memilih berdamai:
- Universal Music Group mencapai kesepakatan lisensi pada Oktober 2025.
- Warner Music Group menyusul pada November 2025.
- Merlin, badan perizinan independen, meneken kesepakatan Januari 2026.
- Kobalt menyusul April 2026.
Puncaknya terjadi pada Juni lalu ketika National Music Publishers’ Association (NMPA) mengumumkan apa yang disebut Presiden dan CEO David Israelite sebagai “kesepakatan lisensi industri pertama dengan perusahaan AI musik besar.”
“Litigating against bad AI actors and licensing good AI partners is not in conflict. NMPA will do both.” — David Israelite, Presiden & CEO NMPA
“Melitigasi aktor AI yang buruk dan melisensikan mitra AI yang baik tidaklah bertentangan. NMPA akan melakukan keduanya,” kata Israelite. Ia menambahkan bahwa kesepakatan ini adalah yang pertama “menghargai lagu dan rekaman suara secara setara” dalam pelatihan AI.
Strategi Berbeda: Lisensi vs Litigasi
Pilihan Sony untuk terus melitigasi menempatkan label ini berseberangan tidak hanya dengan mitra baru Udio, tetapi juga dengan arah industri secara umum. Namun Sony sudah vokal soal kerangka kerja yang mereka anggap satu-satunya yang bisa diterima.
Chairman Sony Music Group Rob Stringer, saat bergabung dengan Spotify dan label-label besar lain dalam produk AI tahun lalu, mengatakan bahwa “lisensi langsung sebelum meluncurkan produk baru adalah satu-satunya cara yang tepat untuk membangunnya.” Dalam paparan ke investor pertengahan 2025, Stringer mengklaim Sony telah “berinteraksi aktif dengan lebih dari 800 perusahaan” terkait pembuatan produk etis, perlindungan konten, dan peningkatan metadata.
Kasus ini diperkirakan akan menghasilkan putusan penting tentang doktrin fair use (penggunaan wajar) yang bisa menjadi preseden bagi seluruh perusahaan AI musik. Dengan memilih litigasi ketimbang lisensi, Sony bertaruh bahwa putusan pengadilan akan menetapkan standar industri—kalkulasi berbeda dari yang dipilih Universal dan Warner.
Argumen Udio: Fair Use dan Data YouTube
Dalam jawabannya pada April lalu, Udio berargumen bahwa penyalinan ekspresi berhak cipta adalah “fair use yang khas,” menggambarkan alat mereka sebagai “proses teknologi back-end yang tidak terlihat publik” yang menghasilkan produk baru yang tidak melanggar hak cipta.
Udio juga mengakui bahwa mereka “memperoleh data audio dari YouTube untuk digunakan sebagai data pelatihan,” sambil berargumen bahwa mengunduh video yang tersedia publik tidak melanggar hukum.
Lebih jauh, Udio menuduh label-label melakukan copyright misuse (penyalahgunaan hak cipta), menunjuk pada “aktivitas anti-persaingan yang memperluas monopoli ilegal” atas musik.
Satu bagian kasus sudah bergerak melawan Udio: pada 15 April, Hakim Hellerstein menolak mosi Udio untuk membatalkan klaim Sony bahwa Udio menghindari perlindungan teknologi YouTube—sebuah tuduhan berdasarkan Digital Millennium Copyright Act (DMCA). Namun hakim mencatat bahwa apakah langkah-langkah tersebut merupakan kontrol akses berdasarkan undang-undang “memerlukan catatan faktual yang lebih besar daripada yang terkandung dalam pleidoi.”
Apa Selanjutnya?
Dengan penutupan dokumen discovery dijadwalkan pada 25 Agustus, kedua pihak diperkirakan akan mengajukan summary judgment (putusan tanpa sidang penuh) mengenai apakah pelatihan Udio termasuk fair use. Sementara itu, kasus paralel melawan Suno melibatkan lebih banyak karya: label-label di sana berusaha menambahkan 61.026 rekaman, dengan Sony dan Universal bertindak bersama di Massachusetts.
Satu hal yang jelas: pertarungan Sony melawan Udio bukan sekadar sengketa hak cipta biasa. Ini adalah perang antara dua visi—lisensi versus litigasi—yang akan menentukan bagaimana musik dan AI berinteraksi di masa depan.

