Direct Licensing
Model lisensi di mana pemegang hak bernegosiasi langsung dengan platform tanpa melalui perantara CMO/PRO.
Apa Itu Direct Licensing?
Direct licensing adalah model di mana pemegang hak cipta musik (label, publisher, atau artis) bernegosiasi dan memberikan lisensi langsung ke platform atau pengguna — tanpa melalui PRO/CMO sebagai perantara.
Contoh Direct Licensing
- Label major (Universal, Sony, Warner) bernegosiasi langsung dengan Spotify untuk tarif streaming
- Publisher besar memberikan lisensi langsung ke platform video/sosial media
- Artis independen melisensikan musik langsung ke brand untuk iklan
- Sync deals antara music supervisor dan pemilik master
Direct vs Collective Licensing
| Direct Licensing | Collective (via CMO) |
|---|---|
| Negosiasi 1-on-1 | Blanket license untuk semua |
| Tarif bisa lebih tinggi | Tarif standar |
| Butuh bargaining power | Cocok untuk katalog kecil |
| Kontrol penuh | CMO handle semuanya |
Kapan Direct Licensing Masuk Akal?
- Anda punya katalog besar dengan bargaining power
- Platform menginginkan eksklusivitas atau fitur khusus
- Tarif CMO dianggap terlalu rendah
- Untuk sync deals spesifik (film, iklan)
Kontroversi
Direct licensing menuai kritik dari CMO karena:
- Melemahkan posisi tawar kolektif
- Artis kecil tidak punya leverage untuk negosiasi langsung
- Bisa menciptakan “two-tier system” di mana major label dapat tarif lebih baik
Tips
- Untuk artis independen: collective licensing (via CMO) biasanya lebih efisien
- Direct licensing lebih cocok untuk deal spesifik (sync, brand partnership)
- Jika punya katalog 1000+ lagu, pertimbangkan direct licensing untuk revenue premium