Teknologi Musik

Deezer Luncurkan Remix Lab, Fitur Modifikasi Lagu Resmi Pertama

Oleh KabarMusik 6 menit baca
Deezer Luncurkan Remix Lab, Fitur Modifikasi Lagu Resmi Pertama

Deezer resmi meluncurkan fitur baru bernama Remix Lab, yang memungkinkan pengguna memodifikasi lagu langsung di dalam aplikasi. Yang membedakan dari fitur serupa di platform lain: Deezer mengklaim sebagai platform streaming pertama yang menghadirkan fitur remix “dengan kepatuhan hak cipta penuh dan atas persetujuan artis”.

Fitur ini pertama kali tersedia di Prancis, pasar terbesar Deezer, dan bisa diperluas ke negara lain dalam beberapa bulan ke depan. Langkah ini sekaligus menjawab tren generasi muda yang tak lagi puas hanya menjadi pendengar pasif.

Remix Lab: Bukan AI, Tapi Manipulasi Stem

Berbeda dengan fitur AI milik Spotify atau YouTube yang baru-baru ini diumumkan, Remix Lab bukanlah teknologi kecerdasan buatan. Perwakilan Deezer menegaskan kepada Music Business Worldwide bahwa fitur ini “tidak menggunakan AI” dan tidak menghasilkan audio baru.

Cara kerjanya: Deezer memutar empat stem secara bersamaan — battery stem, bass stem, voice stem, dan ‘others’ stem. Setiap modifikasi yang diminta pengguna diterapkan di level stem. Teknologi ini sebenarnya sudah dikembangkan Deezer sejak 2019 lewat Spleeter, alat open-source yang memisahkan rekaman menjadi vokal, drum, bas, dan stem lain menggunakan machine learning. Meski versi asli Spleeter sudah berusia beberapa tahun, Deezer mengonfirmasi bahwa teknologi yang dipakai saat ini masih berbasis pada pendekatan yang sama—yaitu pemisahan stem dengan model deep learning yang telah disempurnakan.

Ada lima jenis modifikasi yang bisa dilakukan:

  • Perubahan genre atau gaya
  • Penyesuaian tempo
  • Penyesuaian pitch
  • Penambahan reverb
  • Equalizer

Pierre Trochu, Head of Product Deezer, menjelaskan: “Fitur ini berfokus pada kesederhanaan dan aksesibilitas. Hanya dengan beberapa klik, pengguna bisa membayangkan ulang dan menemukan kembali lagu yang sudah mereka kenal — entah dengan efek sederhana seperti mempercepat tempo atau menambah reverb, atau transformasi yang lebih rumit seperti perubahan genre dan gaya.”

“Fitur ini berfokus pada kesederhanaan dan aksesibilitas. Hanya dengan beberapa klik, pengguna bisa membayangkan ulang dan menemukan kembali lagu yang sudah mereka kenal.” — Pierre Trochu, Head of Product Deezer

Partisipasi Artis dan Mekanisme Kontes

Pada peluncuran awal, Deezer menggandeng sejumlah artis Prancis. Lagu-lagu yang bisa di-remix antara lain:

  • Céline Dion – J’irai où tu iras
  • Tiakola – Meuda
  • Alonzo – 18 carats
  • Alain Souchon – J’ai 10 ans
  • Ronisia – Solide
  • Mosimann – Soon (feat. Gaëtan Roussel)
  • Zaho – Comme Caroline

Setiap remix dibuat berdasarkan persetujuan eksplisit dari artis. Deezer memastikan bahwa stream dari versi remix akan tetap diatribusikan ke karya asli, dan artis tetap mendapatkan kompensasi sesuai hak yang seharusnya mereka terima.

Fitur ini dijalankan lewat mekanisme kontes. Pengguna bisa mengikuti tantangan yang tersedia di Deezer Club atau di halaman artis dalam aplikasi. Mereka menambahkan modifikasi sendiri, lalu remix yang dihasilkan bisa di-streaming, ditambahkan ke playlist, dan dibagikan — khusus di Deezer.

Pemenang kontes akan diumumkan pada awal September 2026. Mereka akan mendapat tempat di playlist khusus Deezer, dua tiket ke acara Deezer Purple Door pada September, serta merchandise dari artis yang lagunya mereka remix.

Menjawab Perilaku Gen Z dan Tekanan Kompetitor

Deezer membingkai fitur ini sebagai respons terhadap kebiasaan generasi baru. Perusahaan menyebut bahwa 30% lagu yang dibagikan di TikTok sudah dimodifikasi oleh pengguna, tetapi secara sistem tidak menghasilkan pendapatan bagi artis dan pemegang hak. Dengan Remix Lab, Deezer ingin memberikan “kerangka etis” bagi kreativitas pengguna.

Langkah ini juga muncul di tengah persaingan ketat antar DSP. Pada Mei 2026, Spotify mengumumkan lisensi dengan Universal Music Group untuk membuat cover dan remix berbasis AI. Namun hingga Deezer mengumumkan Remix Lab, fitur AI Spotify itu belum diluncurkan — belum ada harga atau tanggal pasti. Sementara itu, YouTube sudah punya Dream Track yang didukung model Lyria dari Google DeepMind, yang memungkinkan kreator AS menggunakan AI untuk mengubah gaya lagu berlisensi melalui perintah teks, menghasilkan cuplikan 30 detik untuk YouTube Shorts.

Deezer menekankan bahwa pendekatan mereka berbeda: bukan AI, tetapi manipulasi stem. “Fitur-fitur ini dimungkinkan dengan partisipasi penuh dari artis, sepenuhnya menghormati hak, dan memaksimalkan pendapatan untuk setiap lagu,” kata CEO Deezer, Alexis Lanternier.

“True to our DNA, these features are made possible with full participation of the artists, fully respecting rights, and maximizing earnings for each track.” — Alexis Lanternier, CEO Deezer

(Ungkapan tersebut bisa diterjemahkan: “Sesuai DNA kami, fitur-fitur ini dimungkinkan dengan partisipasi penuh dari artis, menghormati hak sepenuhnya, dan memaksimalkan pendapatan untuk setiap lagu.”)

Implikasi Industri: Etika, Royalti, dan Masa Depan Streaming

Deezer telah lama menjadi vokal dalam soal transparansi musik hasil AI. Pada April 2026, perusahaan melaporkan bahwa sekitar 75.000 lagu buatan AI murni diunggah ke platform mereka setiap hari. Dengan Remix Lab, Deezer ingin menunjukkan bahwa inovasi bisa dilakukan tanpa mengorbankan hak artis.

Model ini juga menawarkan jalan baru bagi monetisasi konten buatan pengguna. Selama ini, platform seperti TikTok dan YouTube menikmati konten remix tanpa membagi royalti secara langsung kepada pemegang hak — sebuah masalah yang sudah lama menjadi perdebatan. Deezer mencoba menawarkan solusi dengan sistem yang sepenuhnya compliant dan transparan.

Namun, fitur ini masih terbatas di Prancis. Deezer memiliki 3,8 juta pelanggan langsung di Prancis pada akhir kuartal pertama 2026, dari total 8,9 juta pelanggan global. Ekspansi ke negara lain akan menjadi ujian apakah model ini bisa diterima secara luas.

Pertanyaan besarnya: akankah artis dan label dari luar Prancis mau berpartisipasi? Dan apakah pendengar di luar Prancis akan tertarik dengan fitur yang tidak menggunakan AI canggih tetapi justru menawarkan kendali langsung atas stem? Deezer tampaknya yakin bahwa pendekatan etis bisa menjadi nilai jual tersendiri — dan mungkin menjadi preseden bagi masa depan interaksi antara penggemar dan musik.

Perbandingan Fitur Remix Antar Platform

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut tabel perbandingan fitur remix dari tiga platform utama:

PlatformNama FiturBasis TeknologiIzin ArtisKetersediaan Saat Ini
DeezerRemix LabManipulasi stemYa, eksplisitPrancis (beta)
Spotify(belum dinamai)AI cover/remixLisensi UMGBelum rilis
YouTubeDream TrackAI (Lyria)Partisipasi kreatorAS (Short)

Perbedaan utama terletak pada pendekatan teknis: Deezer memungkinkan pengguna mengutak-atik stem lagu asli secara langsung tanpa menciptakan konten baru, sementara kompetitor mengandalkan AI generatif untuk menghasilkan variasi baru. Model Deezer menjanjikan transparansi royalti yang lebih tinggi karena setiap stream tetap tercatat sebagai karya asli. Jika berhasil, pendekatan ini bisa menjadi standar baru bagi platform yang ingin mengakomodasi kreativitas pengguna tanpa melanggar hak cipta.

Share:

Artikel Terkait

Kembali ke Beranda