Daisy Hera Hadapi Pertemanan Tidak Sehat Lewat 'Every Time'
Daisy Hera membuka era alternative rock lewat “Every Time”, lagu tentang kehilangan diri saat mempertahankan pertemanan yang sudah tidak sehat.
Sulit Pergi karena Takut Sendirian
Tidak semua hubungan yang menyakitkan datang dari percintaan. Kadang, tekanan paling melelahkan justru hadir dari orang-orang yang dianggap paling dekat.
Perasaan itu menjadi pusat cerita “Every Time”. Daisy menggambarkan seseorang yang terus mengubah dirinya demi memenuhi keinginan teman-temannya. Namun, sebesar apa pun usahanya, ia tetap merasa selalu disalahkan.
Pertanyaan seperti “What do you see in me?” dan “Am I just a problem?” memperlihatkan seseorang yang mulai menilai dirinya melalui pandangan orang lain.
Ia tidak lagi sekadar menghadapi konflik dalam pertemanan. Perlahan, ia ikut kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Pergulatan tersebut semakin terasa ketika Daisy menyanyikan, “Every time I try to be what you want, I feel like I’m falling apart.”
Usaha untuk terus menyesuaikan diri justru membuatnya semakin jauh dari jati dirinya. Namun, meninggalkan hubungan tersebut juga bukan perkara mudah.
Setiap kali mencoba menjauh, muncul ketakutan lain: menghadapi kesendirian.
Konflik itu dirangkum melalui baris, “Every time I try to break away from you, I’m scared to be alone.”
“Every Time” akhirnya bukan hanya lagu tentang perlakuan buruk dalam pertemanan. Lagu ini juga menangkap alasan seseorang tetap bertahan, meski sudah menyadari hubungan tersebut merusak dirinya.
Babak Alternative Rock Daisy Hera
“Every Time” menandai perubahan penting dalam perjalanan musik Daisy Hera. Produksi berbasis gitar terdengar lebih berat, sekaligus memperkenalkan alternative rock sebagai arah barunya.
Penyanyi dan penulis lagu asal Jakarta itu memulai karier solo lewat “Bayangmu” pada 2024. Tahun ini, ia melanjutkan perjalanannya melalui “Let Me Go” dan “Every Time”.
Perubahannya tidak berhenti pada penggunaan distorsi. Karakter vokal Daisy ditempatkan dalam aransemen dinamis yang mengikuti rasa ragu, frustrasi, dan kemarahan dalam lirik.
Bagian “What you said makes me upset, every time feels like hell” menjadi ledakan paling langsung dalam lagu ini. Setelah lama menyimpan pertanyaan, tokohnya akhirnya mengakui bahwa hubungan tersebut telah menjadi ruang yang menyakitkan.
Pendekatan itu membuat “Every Time” berada di antara energi female-fronted rock dan penulisan lagu personal. Musiknya terdengar keras, tetapi kerentanan tetap menjadi pusat emosinya.
Menuju EP Perdana ‘Silence’
Sebelum perilisan, Daisy membangun seri konten “Learning to Be Rocker”. Ia membawakan lagu Linkin Park, Thirty Seconds to Mars, Paramore, dan Avril Lavigne.
Seri tersebut juga mendokumentasikan perjalanannya mencari karakter vokal rock, membeli gitar listrik pertama, membuat demo, hingga merekam “Every Time”.
Lagu ini menjadi single kedua dari EP perdana Daisy Hera bertajuk Silence, yang akan dirilis dalam waktu dekat.
Bagi Daisy, “Every Time” menjadi ruang bagi siapa pun yang pernah merasa harus berubah agar diterima. Lagu ini mengingatkan bahwa tidak ada pertemanan yang seharusnya membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.
“Every Time” telah dirilis pada 30 Juli 2026 dan kini dapat didengarkan melalui Spotify serta berbagai platform streaming digital lainnya.


