Industri

Bose Meluncurkan Label Rekaman dan Bose Studios, Siap Jadi Media Company

Oleh KabarMusik 6 menit baca
Bose Meluncurkan Label Rekaman dan Bose Studios, Siap Jadi Media Company

Bose, perusahaan audio yang namanya identik dengan speaker dan headphone premium, mengambil langkah besar ke arah yang tak terduga. Mereka resmi mengumumkan pembentukan Bose Studios, sebuah in-house content studio, serta meluncurkan label rekaman baru bernama Bose Records.

Langkah ini, yang diungkapkan secara eksklusif kepada Business Insider, menandai pergeseran fundamental dari sekadar perusahaan perangkat audio menjadi pemain di industri konten dan musik. Bose ingin menjadi bagian dari ritual mendengarkan musik, bukan sekadar alat untuk menikmatinya.

Bose Studios: Dari Pemasaran ke Konten

Inisiatif ini dipimpin langsung oleh CMO Bose, Jim Mollica, yang sebelumnya berkarier di Disney dan Viacom. Menurut Mollica, Bose Studios lahir dari realitas yang dihadapi banyak CMO saat ini: biaya iklan semakin mahal, audiens semakin terfragmentasi, dan konsumen aktif menghindari iklan.

“Our category, music, has a bunch of rituals baked into it,” kata Mollica dalam wawancara dengan Business Insider. “If we have the opportunity, not to sell products, but become part of that ritual, then ultimately Bose is not an audio-equipment business anymore. We’re about deepening people’s relationship with music.”

Artinya, Bose tidak lagi hanya menjual perangkat, tetapi ingin memperdalam hubungan pendengar dengan musik itu sendiri. Bose Studios akan memproduksi berbagai konten: serial TV dan film orisinal yang dikaitkan dengan nama-nama legendaris Hollywood, serial YouTube, podcast, hingga acara musik langsung. Bahkan, Mollica membuka kemungkinan Bose mengakuisisi perusahaan media musik.

Beberapa properti konten ini juga akan menghasilkan pendapatan iklan sendiri, menandakan bahwa Bose serius membangun sayap media. Langkah ini mengikuti tren di mana merek-merek besar seperti Red Bull dan Nike telah sukses membangun lini konten yang mandiri secara finansial.

Model Bisnis Bose Records yang Unik

Bagian paling menarik dari pengumuman ini adalah Bose Records. Berbeda dengan label pada umumnya, Bose tidak berniat bersaing dengan “Big Three” (Universal, Sony, Warner). Fokus mereka adalah membantu artis baru atau yang kurang dikenal agar mendapat exposure.

Yang lebih penting lagi, model bisnisnya dirancang agar tidak membebani artis:

  • Bose tidak akan memiliki hak master rekaman artis.
  • Bose tidak akan mengambil bagian dari penjualan album atau royalti mekanis streaming.
  • Artis bebas menandatangani kontrak dengan label lain kapan pun.
  • Bose justru membayar artis di muka untuk menghasilkan musik yang dapat digunakan dalam iklan dan konten mereka sendiri.

“Kami tidak ingin menjadi label yang memeras artis,” tegas Mollica. Alasan utama Bose meluncurkan label ini sebenarnya pragmatis: ketika mereka menggunakan musik artis dalam iklan atau konten Bose, mereka tidak perlu lagi membayar lisensi penggunaan. Dengan kata lain, Bose Records adalah cara cerdas untuk mengamankan pasokan musik tanpa perlu membeli katalog mahal.

Tabel berikut membandingkan model Bose Records dengan label tradisional:

AspekLabel TradisionalBose Records
Hak MasterDiambil label100% milik artis
Royalti StreamingDipotong label100% untuk artis
EksklusivitasKontrak panjang, eksklusifTidak ada kewajiban eksklusif
Sumber PendapatanPenjualan musik & streamingLisensi konten merek
Target ArtisArtis mapan atau potensi besarArtis baru atau underdog

Aktivasi Sebelumnya: Dari LISA Blackpink hingga Twitch Streamer

Langkah ini bukan tanpa jejak. Bose sudah beberapa kali melakukan aktivasi musik yang terbukti sukses. Tahun lalu, mereka bekerja sama dengan LISA dari BLACKPINK untuk menciptakan earbud khusus yang diluncurkan di toko pop-up Los Angeles. Februari lalu, mereka berkolaborasi dengan streamer Twitch bernama PlaqueBoyMax yang menciptakan musik langsung selama siaran yang ditayangkan bertepatan dengan NBA All-Star weekend.

Kolaborasi semacam ini menjadi fondasi bagi Bose Records. Mereka sudah memahami bagaimana menjembatani budaya pop, gaming, dan musik secara organik. Selain itu, Bose juga pernah menjadi sponsor tur beberapa artis besar dan menyediakan peralatan audio di studio rekaman terkenal.

Sejarah Keterlibatan Bose di Industri Musik

Bose sebenarnya bukan pendatang baru di dunia musik. Sejak didirikan pada 1964 oleh Dr. Amar Bose, perusahaan ini telah merancang sistem audio untuk konser, teater, dan tempat ibadah. Produk-produk seperti Bose L1 dan Bose RoomMatch sering digunakan oleh musisi live. Namun, interaksi mereka dengan artis biasanya terbatas pada sisi perangkat keras.

Dengan Bose Records, perusahaan kini masuk ke sisi kreatif. Ini sejalan dengan strategi “vertical integration” ala Disney, di mana merek mengontrol konten sekaligus distribusinya. Bose juga dapat memanfaatkan data pengguna dari aplikasi Bose Music untuk memahami preferensi pendengar dan menyesuaikan artis yang mereka rekrut.

Tantangan Branded Content di Industri Musik

Meski ambisius, langkah Bose bukan tanpa risiko. Banyak merek sebelumnya yang mencoba masuk ke bisnis konten dan label rekaman, namun gagal bertahan. Red Bull dan Starbucks, misalnya, pernah memiliki label rekaman sendiri yang akhirnya dihentikan karena tidak menghasilkan keuntungan atau tidak autentik.

Alexandra Annable, pendiri agensi manajemen artis Holl’r Music, memberikan perspektif kritis. Menurutnya, persaingan bagi artis baru sangat ketat. Untuk sukses, Bose perlu mempertimbangkan untuk fokus pada genre tertentu.

“I think the only way brands can effectively engage with music fans is to create unique, content-led experiences, but these must be really authentic and culturally relevant,” kata Annable.

Steve Ackerman, konsultan dewan untuk bisnis media dan hiburan, juga mengingatkan bahwa Bose Studios harus memprioritaskan konten di atas promosi produk.

“The graveyard of branded content is littered with brands that have gone down this route and not understood what it means to be a content creator. They often defaulted to advertising agencies that don’t understand how to engage with audiences; they just understand how to create content that gets in the way of the thing that audiences want to engage with.”

Komitmen pada Autentisitas

Mollica tampak sadar akan bahaya itu. Ia bersikeras bahwa Bose Studios tidak bekerja dengan agensi iklan. Sebaliknya, mereka merekrut dan bermitra dengan talenta dari industri film, TV, podcast, dan penerbitan.

“This isn’t product placement; this isn’t a long, 30-minute commercial,” tegasnya. “These things are truly about how we are taking this authentic love of music and elevating the content that’s out there today for true music fans to experience more.”

Dengan kata lain, Bose ingin menjadi kurator dan produser konten yang autentik, bukan sekadar sponsornya. Mereka juga telah merekrut mantan eksekutif media dari Vice Media dan Complex Networks untuk memimpin divisi konten.

Apa Artinya untuk Industri Musik Global?

Langkah Bose menunjukkan bahwa batas antara merek elektronik dan perusahaan media semakin kabur. Jika Bose berhasil, ini bisa menjadi cetak biru bagi merek lain seperti Sonos, Apple, atau bahkan Samsung untuk membangun label rekaman sendiri.

Namun, keberhasilan akan sangat bergantung pada konsistensi dan pemahaman terhadap budaya kreatif. Saat ini, industri musik global menyaksikan fenomena di mana merek non-musik justru menjadi peluang baru bagi artis independen untuk mendapatkan platform tanpa tekanan komersial label besar. Model Bose yang tidak mengambil hak master bisa menjadi alternatif menarik di tengah kritik terhadap eksploitasi artis oleh label tradisional.

Apakah Bose bisa menjadi rumah baru bagi artis-artis underdog, atau akankah berakhir seperti label-label brand sebelumnya? Hanya waktu yang akan membuktikan, tapi satu hal pasti: industri musik tak pernah berhenti berubah.

Share:

Artikel Terkait

Kembali ke Beranda